Inibaru.id - Tradisi Tuk Panjang kembali digelar di kawasan Pecinan Semarang menjelang Imlek pada Jumat (13/2/2026) malam. Tahun ini ada yang spesial karena seluruh hidangan diracik langsung oleh koki asal Xinjiang, menghadirkan sentuhan kuliner Muslim Tionghoa yang jarang ditemukan di Semarang.
Oya, Tuk Panjang dalam tradisi Tionghoa adalah momen makan bersama yang mengundang seluruh anggota keluarga. Tradisi ini penting untuk menjaga keakraban dan kebersamaan antaranggota keluarga.
Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim, menjelaskan bahwa Tuk Panjang sejatinya tradisi makan malam keluarga besar. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada malam sebelum Imlek.
"Semua keluarga diundang, sehingga di rumah harus disiapkan meja panjang, makanya disebut Tuk Panjang," ucap Harjanto kepada Inibaru.id.
Tradisi itu kemudian diadopsi ke ruang publik, termasuk saat pembukaan Pasar Imlek Semawis 2026 yang dihadiri para pejabat Pemkot Semarang, tokoh, dan warga lintas agama. Di meja yang sama, mereka saling berbagi tempat untuk makan bersama, menciptakan suasana kebersamaan.
Tahun ini, menu Tuk Panjang menampilkan cita rasa kuliner khas Xinjiang, Tiongkok, yang dimasak langsung oleh koki dari sana. Hidangan utamanya memakai daging kambing.
"Menu ini dipilih karena kami belum pernah makan (daging kambing) sebelumnya. Jadi, ini mencoba pengalaman kuliner baru dan sarat maknanya," paparnya.
Makna Hidangan Tuk Panjang
Kue Moho menjadi pembuka, simbol rezeki yang merekah. Teksturnya yang padat mengingatkan agar manusia memiliki isi dan pendirian teguh.
Salad Mentimun melambangkan kesegaran dan kejernihan pikiran. Hidangan ini mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan soal kemewahan, tapi keseimbangan tubuh dan finansial.
Kebab Kambing Khas Xinjiang menandai semangat dan kehangatan keluarga. Daging yang ditusuk rapat melambangkan persatuan, sedangkan taburan jintan dan cabai mengingatkan agar hidup dijalani penuh gairah.
Claypot Sapi Khas Xinjiang melambangkan ketahanan menghadapi tantangan. Wadah tanah liat yang menyimpan panas lama menjadi simbol doa agar rezeki dan kebahagiaan tak cepat menguap, sementara daging yang dimasak perlahan mengingatkan pentingnya kesabaran.
Paha Kambing Bakar Khas Xinjiang menjadi simbol kemakmuran dan langkah mantap menyongsong tahun baru. Lapisan luar garing dan bagian dalam lembut mengajarkan keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang.
Hidangan penutup, minuman Ginger Peppermint menghadirkan keseimbangan antara ketegasan dan ketenangan. Panas jahe melambangkan kerja keras, sementara sejuk peppermint menandai kepala yang tetap jernih.
Harjanto menilai, makna Imlek di tahun Kuda membawa karakter yang tidak selalu mudah ditebak. Tantangan ekonomi dan kehidupan yang dialami pada 2025 menjadi pelajaran penting agar langkah ke depan lebih terkendali.
"Tahun Kuda ini unpredictable, susah ditebak. Karena pada tahun 2025 masa yang tidak mudah untuk usaha maupun kehidupan," tukas Harjanto.
Tuk Panjang kini bukan sekadar sajian makan malam, tetapi telah menjadi tradisi yang mempersatukan masyarakat Kota Semarang sekaligus menjaga nilai kebersamaan menjelang Imlek. (Sundara/E10)
