Inibaru.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat, ada 160 kejadian tanah longsor sepanjang 2025, menjadikannya sebagai bencana alam paling dominan di Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng).
Secara keseluruhan, BPBD mencatat ada 418 kejadian bencana di Semarang. Dari rentetan peristiwa tersebut, 9 orang meninggal dunia dan 3.056 warga terdampak, mulai dari kerusakan rumah, terganggunya aktivitas sehari-hari, hingga hilangnya mata pencaharian sementara.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto menyampaikan, sepanjang 2025, tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi di Kota Semarang. Hal itu lantaran karakter wilayah yang sebagian besar berbukit dan rawan pergerakan tanah.
"Sepanjang tahun lalu, tanah longsor masih mendominasi kejadian bencana di Kota Semarang," ujar Endro saat dihubungi Inibaru.id, Kamis (8/1/2026).
Rincian Kejadian Bencana
Berdasarkan data BPBD Kota Semarang, dari total 418 kejadian bencana, rinciannya sebagai berikut:
- Tanah longsor: 160 kejadian
- Rumah roboh: 79 kejadian
- Kebakaran: 69 kejadian
- Puting beliung: 47 kejadian
- Banjir dan rob: 30 kejadian
- Pohon tumbang: 27 kejadian.
Endro menjelaskan, tanah longsor sebagian besar terjadi di wilayah yang termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB), terutama di kecamatan dengan kontur berbukit seperti Candisari, Ngaliyan, Gajahmungkur, Tembalang, dan Gunungpati.
"Kondisi topografi yang menanjak dipadukan dengan curah hujan tinggi membuat daerah ini rentan terhadap longsor," sebutnya.
Dia menambahkan, penyebab rumah roboh di Kota Semarang cukup beragam. Dari 79 kejadian, sekitar 40 rumah roboh akibat longsor, 27 rumah tertimpa pohon tumbang, dan sisanya dipicu bangunan yang sudah tua atau lapuk. Sebagian kecil rumah roboh juga disebabkan oleh puting beliung.
Korban Terbesar Justru dari Kebakaran
Meski tanah longsor menjadi peristiwa bencana terbanyak sepanjang 2025, korban jiwa terbesar justru disebabkan oleh peristiwa kebakaran. Salah satu peristiwa besar yang menyita perhatian terjadi di Kelurahan Mlatibaru, Kecamatan Semarang Timur, yang menewaskan satu keluarga beranggotakan lima orang.
Sementara itu, Endro mengatakan, satu korban meninggal dunia lainnya adalah lantaran tertimpa rumah roboh di Kecamatan Semarang Tengah. Dia menyebutkan, jumlah bencana di Kota Semarang mengalami penurunan tahun ini.
"Sekarang lebih kecil dibanding 2024 yang tercatat mencapai 488 kejadian. Sama seperti tahun ini, (bencana) tahun lalu juga didominasi tanah longsor," jelasnya. "Meski menurun, kami mengimbau agar warga tetap waspada, terutama saat hujan lebat dan angin kencang, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi."
Saat hujan lebat atau angin kencang, Endro menyarankan masyarakat untuk sebisa mungkin menghindari berteduh di bawah pohon besar lantaran pohon rawan tumbang. Selain itu, warga yang tinggal di kawasan perbukitan juga perlu meningkatkan kewaspadaan karena potensi longsor tetap ada.
Saran yang masuk akal, kan? Kalau kamu tinggal di perbukitan, nggak ada salahnya meningkatkan kewaspadaan, ya! (Sundara/E10)
