Inibaru.id - Selain luka, bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra juga menyisakan begitu banyak cerita bagi para penyintas. Sepekan mendampingi mereka di pengungsian, para sukarelawan dari Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang turut menyaksikan bagaimana perjuangan mereka.
Sedikit informasi, Tim Relawan SCU Semarang yang terdiri atas 14 sukarelawan dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi itu tiba di Sumatra Utara pada Kamis (18/12/2025) untuk membantu memberikan layanan medis dan pendampingan psikologis bagi warga terdampak.
Selama sepekan di Sumatra, para sukarelawan tersebut ditempatkan di titik-titik bencana yang ada di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Tugas utama mereka memang mendampingi penyintas. Hingga 26 Desember, mereka mengatakan telah mendampingi sekitar 400-an orang.
Pendampingan dilakukan di sejumlah lokasi, sebagian di antaranya di Kabupaten Tapanuli Tengah. Di sana, mereka menyambangi beberapa daerah terdampak seperti di Desa Parjalihotan (Kecamatan Pinangsori), Desa Hutanabolon dan Sigiring-Giring (Kecamatan Tukka), serta desa-desa di Kecamatan Sutahuis.
Membuka Layanan Kesehatan
Para sukarelawan SCU dibagi menjadi dua tim. Yang pertama adalah tim medis dengan tugas utama mereka adalah membuka layanan kesehatan di bawah komando delapan sukarelawan yang merupakan para dokter, gabungan dari dosen dan alumni, dari Fakultas Kedokteran SCU.
Layanan tersebut mulai dari konsultasi dan edukasi, pemeriksaan medis, triase, tindakan ringan, hingga pemberian obat dan rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan, sebagaimana dikatakan Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat SCU dr Ratna Shintia Defi.
Dr Ratna menyebut, penyakit kulit menjadi keluhan yang paling sering dijumpai di sana; antara lain infeksi jamur, dermatitis iritan, alergika, serta skabies. Tim juga menemukan masalah kesehatan seperti ISPA, gangguan pencernaan, nyeri otot dan sendi, hingga penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.
"Sebagian penyakit (sebetulnya) bisa dikendalikan dengan obat rutin, tapi pengobatan terhenti karena puskesmas terdampak dan akses jalan putus pascabencana," ujar dr Ratna dalam keterangan tertulis yang diterima Inibaru.id, Kamis (8/1/2026).
Skrining Psikososial
Sementara itu, tim kedua bertugas memberikan pendampingan psikologis, terdiri atas enam mahasiswa dari Center for Trauma Recovery (CTR) Fakultas Psikologi SCU. Tugas utama mereka adalah melakukan skrining psikososial untuk menilai kondisi mental para penyintas.
Ratna mengungkapkan, dari hasil asesmen tersebut, tim kemudian memberikan pendampingan psikologi dasar untuk membantu stabilisasi emosi, disertai psikoedukasi, dan berbagai bentuk dukungan psikologis seperti relaksasi, terapi sentuh, dan aktivitas kreatif.
Dia mengungkapkan, tujuan utama kehadiran para sukarelawan ini adalah untuk memberi rasa aman bagi penyintas, karena menurutnya proses pemulihan seringkali terhambat oleh trauma serta keterbatasan kebutuhan dasar, salah satunya akses layanan kesehatan dan psikologi.
"Pelayanan yang kami lakukan bersifat menyeluruh, mulai dari penanganan keluhan, pemantauan kondisi, hingga dukungan psikososial sebagai wujud kepedulian terhadap para penyintas," ungkapnya.
Pemantauan Terus Dilakukan
Ratna memastikan, pemantauan kondisi penyintas akan terus dilakukan secara bertahap. Tim juga akan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat dan menyusun laporan sebagai dasar perencanaan intervensi lanjutan.
"Kami berharap pendampingan ini dapat berkontribusi pada pemulihan kesehatan para penyintas secara berkelanjutan," tegasnya.
Sementara, Wakil Koordinator Mahasiswa CTR Fakultas Psikologi SCU Clara Ambar Pramudita mengatakan, berdasarkan pengamatan para sukarelawan di lapangan, dia menyarankan agar kebutuhan dasar penyintas bisa terpenuhi, karena akan berpengaruh langsung terhadap pemulihan sosial dan psikologis mereka.
"Mereka semakin menyadari bahwa banyak pihak yang peduli. Kita tahu bahwa bencana adalah kejadian traumatis. Dukungan-dukungan yang diberikan itu, semoga bisa membantu penyintas mempersiapkan diri untuk melanjutkan hidupnya kembali," tutup Clara.
Semoga dukungan para sukarelawan ini tersampaikan dengan baik. Meski jalan pemulihan masih panjang, keberadaan mereka yang memberi pendampingan pastilah akan membantu penyintas untuk kembali bangkit. Yuk, pulih! (Sundara/E10)
