Inibaru.id - Berbeda dari beberapa tahun sebelumnya, pelaksanaan salat tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pada Ramadan 2026 bakal terasa baru. Hal ini disebabkan oleh Otoritas Arab Saudi yang secara resmi menetapkan bahwa tarawih tahun ini akan dilaksanakan sebanyak 10 rakaat, lalu ditutup dengan 3 rakaat salat witir. Kebijakan ini berlaku serentak di dua masjid suci umat Islam tersebut.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Urusan Dua Masjid Suci. Dalam keterangannya, ditegaskan bahwa format ibadah malam Ramadan 1447 Hijriah sudah dikonfirmasi dan akan dijalankan secara konsisten sepanjang bulan suci. Artinya, jamaah, baik warga lokal maupun internasional, sudah bisa bersiap dengan pola ibadah yang lebih ringkas dibandingkan beberapa tahun lalu.
Secara teknis, tarawih 10 rakaat ini akan dilaksanakan dengan lima kali salam. Setelah itu, jamaah akan melanjutkan dengan 3 rakaat witir sebagai penutup.
Pola ini sebenarnya bukan hal baru di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tapi, biasanya pola tarawih dan witir di sana dilakukan dengan jumlah rakaat lebih banyak. Pada Ramadan 2022 misalnya, tarawih masih dilaksanakan 20 rakaat ditambah 3 witir, sehingga total ibadah yang dijalankan mencapai 23 rakaat.
Lalu, kenapa kembali ke pola 10+3 rakaat? Pemerintah Arab Saudi menyebutkan bahwa penetapan ini merupakan bagian dari penyesuaian manajemen ibadah. Faktor kekhusyukan jamaah, keteraturan saf, hingga lonjakan jumlah jamaah yang terus meningkat setiap Ramadan menjadi pertimbangan utama. Dengan format yang lebih singkat, diharapkan pelaksanaan salat bisa berlangsung lebih tertib dan nyaman, terutama di tengah lautan manusia yang memadati kedua masjid tersebut.
Menariknya lagi, seluruh rangkaian salat Tarawih ini tetap akan disiarkan secara global. Artinya, umat Islam di berbagai belahan dunia masih bisa mengikuti suasana ibadah Ramadan dari Tanah Suci secara langsung. Bagi mereka yang belum berkesempatan berangkat umrah atau haji, siaran ini menjadi jembatan spiritual untuk tetap terhubung dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Kebijakan ini juga penting dicatat oleh calon jamaah umrah dan peziarah. Dengan mengetahui jumlah rakaat dan format pelaksanaannya sejak awal, jamaah bisa menyesuaikan diri dan tidak kebingungan saat mengikuti salat berjamaah. Apalagi, jamaah yang datang berasal dari berbagai negara dengan kebiasaan tarawih yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, perubahan jumlah rakaat ini menegaskan satu hal: pengelolaan ibadah di dua masjid suci terus beradaptasi dengan kondisi zaman, tanpa meninggalkan tradisi yang telah lama dijaga. Dengan tarawih 10 rakaat dan witir 3 rakaat di Ramadan 2026, Arab Saudi berharap suasana ibadah tetap khusyuk, tertib, dan nyaman bagi jutaan jamaah yang datang dari seluruh penjuru dunia. (Arie Widodo/E07)
