Lebih dari Sekadar Seru, Lomba-Lomba Ini Punyai Makna Dalam

Lebih dari Sekadar Seru, Lomba-Lomba Ini Punyai Makna Dalam
Panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, tarik tambang merupakan lomba yang hampir selalu ada pada saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. (Kaskus/Yenyoktafia)

Banyak jenis lomba yang digelar pada saat Hari Kemerdekaan Indonesia. Namun, panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, dan tarik tambang yang paling sering diadakan. Kenapa ya?

Inibaru.id- Hari Kemerdekaan Indonesia selalu meriah dengan lomba-lomba yang diselenggarakan di kampung, perumahan, sekolah, atau perkantoran. Dengan menjunjung tinggi semangat sportivitas dan kebersamaan, aneka perlombaan biasanya berlangsung seru, hangat, ceria, dan penuh keakraban.

Ada beberapa jenis perlombaan khas tujuh belasan yang tetap eksis dari dulu hingga kini. Misalkan saja panjat pinang, makan krupuk, balap karung, dan tarik tambang. Salah satu dari lomba-lomba itu pastilah pernah kamu lihat atau lakukan, kan?

Kenapa permainan-permainan itu bisa awet hingga kini meski kompetisi zaman sekarang makin banyak ragamnya? Bisa jadi karena keempat jenis perlombaan itu mempunyai nilai histori dan filosofinya sendiri.

Ya, nggak sekadar lomba, panjat pinang, makan krupuk, balap karung, dan tarik tambang punya makna dalam. Seperti apa makna permainan-permainan ini? Yuk simak!

1. Balap Karung

Lomba balap karung hampir selalu ada pada momentum 17-an. Nggak hanya seru, lomba ini bisa dilakukan siapa saja tanpa pandang usia atau jenis kelamin. Aturan perlombaannya sederhana meski terkadang ada modifikasi yang membuatnya jadi lebih menarik. 

Di balik keseruan lomba ini, balap karung sebenarnya adalah simbol pakaian sederhana yang dikenakan warga Indonesia saat masih dijajah Belanda. Yap, pada zaman dulu, orang Indonesia ternyata mengenakan kain goni untuk bahan pakaian, lo.

Menariknya, lomba ini dipopulerkan oleh orang Belanda saat masih memerintah Tanah Air. Dulu yang menyelenggarakannya adalah para misionaris.

2. Makan Kerupuk

Kerupuk identik dengan makanan sederhana dan erat dengan masyarakat Indonesia. (C.Mi/Tommy Mubarok)
Kerupuk identik dengan makanan sederhana dan erat dengan masyarakat Indonesia. (C.Mi/Tommy Mubarok)

Kalau ditanya soal camilan atau teman baik makan nasi orang Indonesia, kerupuk pasti jadi salah satu jawabannya. Saking populernya, makanan renyah ini sampai dijadikan lomba saat perayaan 17-an. Aturan lomba makan kerupuk pun unik tapi seru. Kerupuk digantung setinggi sekitar kepala. Lalu siapa yang berhasil menghabiskan kerupuk tanpa menyentuhnya dengan tangan, dia yang menang.

Sebagaimana lomba balap karung, lomba ini diadakan sebagai pengingat bahwa orang Nusantara dulu makan makanan sederhana seperti kerupuk. Jadi, kerupuk di sini adalaah simbol kemiskinan dan kelas bawah. 

3. Panjat Pinang

Kalau yang ini, sejarahnya sedikit lebih gelap, Millens. Soalnya, orang-orang Belanda dulu menjadikan lomba panjat pinang sebagai tontonan. Mereka menganggap orang pribumi yang memperebutkan barang-barang kebutuhan pokok atau barang berharga lainnya sebagai hiburan. Batang pinang yang harus dipanjat juga sangat licin karena diolesi pelumas. Setiap kali orang yang berusaha memanjatnya terjatuh, tentu bakal terlihat lucu, bukan?

4. Tarik Tambang

Tarik tambang mengajarkan pada kita arti berjuang keras dan kerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. (Fimela/Genmuda)
Tarik tambang mengajarkan pada kita arti berjuang keras dan kerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. (Fimela/Genmuda)

Tarik tambang sih bukan lomba asli Nusantara. Tapi, karena lomba ini sangat menghibur, jadi sering digelar saat perayaan kemerdekaan. Kabarnya sih, lomba ini diadakan agar orang Indonesia tahu seberapa kuat perjuangan orang-orang pada zaman dahulu dipaksa bekerja di masa penjajahan.

Nah, begitulah makna dari lomba-lomba khas Hari Kemerdekaan Indonesia. Meski sekarang lomba tersebut digelar dengan suasana yang meriah, rupanya tujuan awalnya adalah untuk mengajak kita mengingat arti penting perjuangan para pendahulu kita. So, sebagai generasi muda, kita harus pintar mengambil sisi positif dari zaman penjajahan dulu ya, Millens! (Tem/IB09/E10)