Inibaru.id - Di Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, teknologi energi terbarukan dari angin dan surya mengubah wajah perkampungan. Jalan-jalan kampung yang dulu gelap gurita dalam tiga tahun terakhir terang benderang berkat pemanfaatan energi terbarukan.
Bagi warga setempat, energi hybrid dari tersebut bukan sekadar penerangan. Mereka ingin mandiri dalam mengelola listrik, memanfaatkan potensi alam yang ada, sekaligus belajar memanfaatkan sumber daya lokal.
Kepala Desa Banjarsari, Hariyanto menjelaskan bahwa ide energi terbarukan ini semula lahir dari diskusi sederhana untuk menyalakan lampu jalan kampung setelah selama puluhan tahun mereka hidup tanpa penerangan saat malam.
"Wilayah kami terpisah-pisah. Ada tiga dukuh di Banjarsari yang belum tersentuh listrik. Jadi, pada malam hari wilayah tersebut tergolong rawan dari sisi keamanan," ucap Hariyanto yang berbicara sebagai narasumber diskusi energi terbarukan di Kota Semarang, Kamis (12/3/2026).
Nyalakan Belasan Lampu Jalan
Pada 2023, Pemdes Banjarsari menganggarkan sekitar Rp84 juta dari dana desa untuk memasang sistem energi hybrid tenaga angin dan surya. Proses pemasangan sekaligus perawatan dilakukan dengan pendampingan sivitas akademik Universitas Semarang (USM).
Menurut Hariyanto, energi hybrid tersebut mampu menyalakan 17 lampu yang menerangi jalan perkampungan sepanjang 700 meter. Setiap lampu berdaya 600-700 watt, tersambung ke baterai 3.600 watt dan bisa menyala sampai 12 jam.
"Tapi, kendala dan tantangan kami selama ini adalah masalah sumber daya manusia," ungkap Hariyanto. "Saya ingin ada warga yang dilatih sehingga kalau terjadi kerusakan kecil tidak perlu selalu memanggil tim dari Semarang."
Selain penerangan, energi terbarukan juga mampu mengaliri listrik untuk proses produksi dua UMKM. Salah satunya pembuatan mi lidi. Ke depan, Hariyanto berencana mengombinasikan program desalinasi dengan panel surya, agar sistem desa lebih mandiri dan hemat biaya listrik.
"Sejak September 2025, warga kami sudah merasakan manfaat program desalinasi. Namun, listrik yang digunakan cukup tinggi, jadi saya sudah minta ke Gubernur Jateng agar dibangun panel surya supaya lebih hemat," paparnya.
Potensi Energi Terbarukan Sangat Luas
Di sisi lain, Kepala Pelibatan Subnasional IESR, Rizqi Prasetyo menilai, potensi energi terbarukan di Jawa Tengah sangat luas. Inovasi dari Desa Banjarsari menjadi bukti bahwa energi terbarukan bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat, tanpa harus membangun pembangkit listrik besar.
"Meski skalanya kecil, energi terbarukan tetap membutuhkan biaya. Maka, biarpun potensinya besar, keberadaanya tak bisa dilepaskan dari kebijakan dan keberanian yang dikeluarkan oleh pemimpin desa," jelasnya.
Rizqi menyebut, kepemimpinan Kepala Desa Banjarsari yang berani mengalokasikan dana desa untuk pembangunan infrastruktur tersebut sudah sepatutnya mendapatkan apresiasi yang baik.
"Masyarakat desa perlu didorong untuk merasa memiliki infrastruktur energi terbarukan. Mereka misalnya perlu ikut mengoperasikan, merawat, dan berkontribusi baik waktu, tenaga, maupun biaya untuk replikasi dan pengembangan inovasi berikutnya," tandasnya.
Semoga inisiatif mandiri energi di Desa Banjarsari bisa menginspirasi desa lain untuk memanfaatkan angin dan matahari, sekaligus menciptakan kemandirian energi. Setuju kan Gez? (Sundara/E10)
