Inibaru.id – Selama bertahun-tahun, sebuah kampung di Kaligawe, Semarang, dikenal dengan sebutan “kampung hitam.” Julukan itu bukan muncul tanpa alasan: cerita tentang mabuk, pencurian, dan kriminalitas membuat stigma itu melekat kuat. Dari luar, orang hanya melihat sisi gelapnya, tanpa menyadari wajah-wajah manusia di dalamnya. Namun, warga kampung kini ingin menulis ulang kisah mereka.
"Tidakkah setiap manusia berhak atas kesempatan kedua? Tidakkah sebuah kampung pun bisa lahir kembali, sebagaimana manusia belajar dari luka?” Pertanyaan itulah yang kini dijawab dengan langkah berani: mereka memilih putih. Putih di sini bukan sekadar warna. Putih adalah kerukunan yang tumbuh dari luka, awal baru yang lahir dari pengakuan, harapan yang menyingkirkan stigma. Warga kampung ingin membuktikan bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi sedang benar-benar terjadi.
Sebagai simbol transformasi, akan digelar sebuah perayaan bertajuk “Festival Banjir Kanal Timur” pada 13-14 September 2025. Acara ini menghadirkan berbagai kegiatan kebersamaan: lomba rakyat, kirab budaya, hingga pengajian akbar.
Dalam proses transformasi ini, warga Kaligawe tak berjalan sendiri. Mereka akan didampingi oleh Santrendelik, komunitas mengaji yang sedekade terakhir telah menjadi wadah bagi kalangan muda untuk menyeriusi kajian Islam dengan suasana santai dan nyaman. Salah satu program utama Santrendelik adalah Kampung Tobat, sebuah inisiatif pendampingan sosial yang membantu kampung-kampung membangun budaya tobat, memperkuat nilai spiritual, dan memulihkan hubungan sosial.
Pendekatan yang dilakukan Santrendelik diharapkan tidak hanya simbolis, tetapi menciptakan perubahan perilaku yang konsisten dan berkelanjutan.
Gerakan ini diharapkan dapat menggeser stigma lama: dari kampung hitam menjadi kampung putih, kampung rukun, kampung yang berani berharap. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk para tokoh, pemerintah kota, media, hingga masyarakat luas, sangat diharapkan agar perubahan ini tidak berhenti di langkah awal.
Perubahan tidak selalu dimulai dari gedung megah atau mimpi besar. Kadang, ia lahir dari lorong sempit sebuah kampung yang berani berkata: cukup sudah. Inilah kisah Kaligawe, dari hitam menuju putih, dari stigma menuju kerukunan, dari masa lalu yang berat menuju masa depan penuh harapan. (Ike Purwaningsuh/E01)
