Inibaru.id - Setiap malam Ramadan, masjid dan musala biasanya dipenuhi jamaah yang ingin menunaikan salat tarawih. Suasananya khas: lampu terang, suara imam yang merdu, dan barisan saf yang rapi. Namun, di tengah semangat itu, ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul; apakah boleh ikut tarawih hanya delapan rakaat di masjid, lalu melanjutkan witir di rumah?
Pertanyaan ini wajar, karena di Indonesia sendiri praktik tarawih tidak selalu sama. Sebagian masjid melaksanakan 20 rakaat tarawih ditambah tiga rakaat witir. Namun, ada juga yang melaksanakan delapan rakaat tarawih saja. Selain itu, tidak semua orang punya kondisi fisik atau waktu yang memungkinkan untuk mengikuti seluruh rangkaian salat hingga selesai.
Menurut Arsad Hidayat dari Kementerian Agama RI, umat Islam diperbolehkan memisahkan diri dari jamaah setelah delapan rakaat tarawih, lalu melanjutkan witir di rumah. Dalam istilah fikih, tindakan ini disebut mufaraqah, yaitu memisahkan diri dari imam dengan niat tertentu.
“Boleh kok kalau tarawih 8 rakaat di masjid, lalu memisahkan diri dan melaksanakan witir di rumah,” terang Arsad sebagaimana dinukil dari Kompas, Kamis (19/2/2026).
Hal ini diperbolehkan karena tarawih merupakan salat sunnah, bukan salat wajib. Artinya, pelaksanaannya fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jadi, jika seseorang hanya mampu melaksanakan delapan rakaat di masjid, lalu ingin menyempurnakannya di rumah, hal itu tetap sah dan diperbolehkan.
Meski begitu, ada keutamaan tersendiri jika seseorang mengikuti imam sampai selesai. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang salat bersama imam hingga selesai akan mendapatkan pahala seperti salat semalam penuh. Keutamaan ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak jamaah memilih untuk tetap mengikuti seluruh rangkaian tarawih dan witir di masjid.
Namun, bukan berarti salat di rumah nilainya lebih rendah. Justru, salat sunnah yang dilakukan di rumah juga memiliki keutamaan tersendiri. Selain bisa dilakukan dengan lebih tenang, salat di rumah juga dapat menjadi cara untuk mempererat hubungan spiritual sekaligus membangun kebiasaan ibadah bersama keluarga.
Jumlah rakaat tarawih sendiri pada dasarnya tidak bersifat kaku. Ada yang melaksanakan delapan rakaat, ada juga yang 20 rakaat. Yang terpenting bukan jumlahnya, tetapi kualitasnya, mulai dari kekhusyukan, ketenangan, hingga kesungguhan dalam beribadah.
Pada akhirnya, tarawih adalah ibadah sunnah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadi beban. Jadi, baik itu memilih tarawih delapan rakaat di masjid lalu witir di rumah, atau mengikuti seluruh rangkaian di masjid, keduanya sama-sama diperbolehkan.
Yang paling penting adalah menjaga niat, konsistensi, dan kekhusyukan. Karena esensi Ramadan bukan soal seberapa banyak rakaat yang dilakukan, tetapi seberapa tulus dan sungguh-sungguh seseorang dalam menjalankan ibadahnya. Setuju kan, Gez? (Arie Widodo/E07)
