Inibaru.id - Curah hujan yang tinggi selama berhari-hari, banjir nggak juga surut, dan debit air yang terus naik di berbagai titik tentu saja membuat siapa pun panik, apalagi kalau air sampai masuk rumah. Namun, bagi sebagian orang, alasan itu masih nggak cukup kuat untuk membuat mereka mengungsi.
Bukan karena nggak pengin, tapi dalam banyak kasus mereka terpaksa melakukannya lantaran punya alasan yang jauh lebih kuat, sehingga memutuskan untuk bertahan dalam kondisi banjir dan minim akses, bahkan saat air sudah mulai masuk rumah mereka.
Afiah, salah seorang warga terdampak banjir di Dukuh Kedung Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, memilih bertahan di rumahnya meski sejumlah warga sudah memutuskan utuk mengungsi.
"Saat ini masih aman," tutur perempuan paruh baya tersebut, beberapa waktu lalu. "Tapi, anak dan cucu sudah diungsikan. Tinggal saya di sini."
Bertahan demi Ternak
Sedikit informasi, hujan lebat yang berlangsung selama sepekan terakhir telah mengakibatkan banjir di banyak wilayah di Demak, termasuk di Desa Wonorejo. Sungai yang meluap di desa tersebut membuat akses jalan terendam air. Bahkan, sejumlah sekolah juga telah diliburkan.
Berdasarkan data dari BPBD Demak, debit air telah mencapai 60 sentimeter. Sebanyak 6.129 jiwa dari 1.932 keluarga terdampak banjir. Sebagian warga telah memilih mengungsi, tapi masih banyak yan memilih bertahan di rumahnya masing-masing, termasuk Afiah.
Meski air di depan rumahnya sudah setinggi lutut orang dewasa, dia memilih bertahan karena ngaboti ternaknya. Afiah mengaku memelihara lima ekor kambing dan merasa kasihan jika harus meninggalkan piaraannya tersebut tanpa diberi makan.
“Rumah sudah tergenang, tapi saya tetap (bertahan) di sini bersama suami. Anak dan cucu sudah mengungsi ke rumah saudara setelah melihat banjir semakin tinggi dan meluas. Sejauh ini (di rumah) masih aman, tidak harus mengungsi," tuturnya.
Terbiasa Berdamai dengan Banjir
Afiah mengatakan, banjir di wilayahnya bukanlah peristiwa baru. Dia dan warga setempat sudah terbiasa berdamai dengan bencana yang menurutnya bikin kondisi ekonomi jadi sulit tersebut. Maka, saat banjir datang, hal yang terbesit di benaknya adalah menyelamatkan hartabenda, salah satunya ternak.
"Ini banjir tahunan, jadi kami tahu banjir akan datang. Harusnya kami meninggikan rumah untuk mengantisipasi banjir, tapi karena keterbatasan dana, yang sekarang bisa kami lakukan hanya pasrah sambil berharap bisa menjaga harta benda yang kami miliki," keluhnya, lalu tertawa.
Selain melindungi harta benda, warga yang memilih bertahan biasanya karena ada anggota keluarganya yang sedang sakit dan nggak memungkinkan untuk diajak mengungsi, sebaaimana terjadi pada Sutimah. Dia memilih tinggal di rumah yang dikelilingi banjir hingga setinggi lebih dari setengah meter demi suaminya.
"Depan (rumah) sudah banjir semua. Sampai masuk rumah juga. Itu di ruang tamu (ketinggian air) sudah 30-an sentimeter. Namun, suami saya ini sakit stroke, tidak biasa diajak keluar," akunya. Sempat mengungsi ke rumah anak, tapi sungkan karena suami kalau buang air besar harus pakai alat bantu."
Mereka yang memilih bertahan tentu saja bukan karena keinginan, melainkan keadaan yang mendesak dan memaksa untuk bertahan. Dengan kondisi seadanya, warga bertahan untuk mempertahankan yang mereka punya. Di sinilah seharusnya pemerintah bisa ambil peran! (Sekarwati/E10)
