Pandai Besi Semarang Juyono, Profesi Warisan yang Disandang Sejak 1970-an

Sudah paruh baya, tapi Juyono masih setia dengan profesi warisan yang disandangnya sejak 1970-an, yang membuatnya menjadi salah satu pandai besi Semarang yang paling terkenal. 

Inibaru.id - Tatapan mata Juyono nggak berpaling sedikit pun dari gerinda yang dipakai untuk menajamkan gaman buatannya. Dia agaknya juga nggak menyadari kedatangan saya pada Jumat (1/10/2021) siang itu. Di sebelahnya, api yang menyala menimbulkan suara keras, membuat saya kesulitan menyapanya.

Setelah agak mendekat, saya memberanikan diri memanggilnya dengan suara agak melengking; barulah lelaki paruh baya itu menoleh. Sebentar menyapa, dia segera berpaling dan kembali fokus dengan pekerjaannya sebagai pandai besi.

Menjadi pandai besi bagi Juyono adalah sebuah panggilan hidup. Maka, wajar kalau dia melakoninya dengan sepenuh hati. Inilah profesi warisan yang diturunkan oleh sang ayah, yang dilakoninya sejak 1970-an hingga sekarang.

"Dulu bapak saya pandai besi, lalu saya. Sekarang anak saya juga pandai besi," tutur lelaki 62 tahun yang tinggal di Desa Kaligetas, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, tersebut. "Ini jadi keahlian turun-temurun."

Juyono memang tampak begitu mendalami profesinya sebagai pandai besi. Kendati harus bersaing dengan banyak pabrik pembuat perkakas yang diperkuat peralatan canggih, dia nggak gentar. Dia mengaku cukup percaya diri dengan gaman-gaman yang dihasilkannya.

“Saya selalu mengutamakan kualitas, mengerjakan dengan sungguh-sungguh, telaten, dan tekun; supaya pelanggan puas dan datang kembali,” ujarnya.

Barang-barang yang dibuat Juyono antara lain parang, cangkul, sabit, dan linggis. Perkakas yang dibuatnya itu membuat namanya cukup dikenal di kalangan masyarakat. Bahkan, Juyono mengaku sudah punya banyak pelanggan dari Semarang maupun luar daerah.

“Pembeli datang dari berbagai daerah, mulai dari Temanggung, Magelang, Kendal, dan lain lain. Biasanya dalam sekali pesen ada puluhan atau ratusan unit,” ungkap Juyono sembari bekerja. "Selain membuat, saya juga menajamkan perkakas."

Saat saya tiba di rumah Juyono, kebetulan ada salah seorang pelanggan yang bertandang. Munir Susilo namanya. Dia datang dari Sukorejo, Kabupaten Kendal, untuk mengantarkan 50 pisau tumpul agar bisa ditajamkan kembali.

Munir, begitu Juyono menyapa lelaki yang mudah akrab tersebut, mengaku sudah bertahun-tahun dirinya menjadi pelanggan tetap Juyono. Menurutnya, dia sudah sangat percaya dengan kualitas pekerjaan Juyono.

"Harganya juga terjangkau buat saya,” ujar Munir yang juga mengatakan bahwa untuk pisau ukuran paling kecil, harganya mulai dari Rp 75 ribu, sedangkan yang paling besar adalah 150 ribu. (Triawanda Tirta Aditya/E03).