Menafkahi dari Balik Jeruji, Perjuangan Perempuan di Lapas Wanita Semarang

Menjadi narapidana nggak lantas membuat para perempuan ini terbebas dari keharusan menafkahi keluarganya. Bertepatan dengan pekan untuk perayaan Hari Perempuan Internasional, inilah perjuangan penghuni Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang mencari nafkah meski di balik teralis besi.

Inibaru.id - Mesin jahit berderik nyaring. Mata Rohana menatap tajam pada kain yang tengah digarapnya. Serius sekali. Bahkan, dia nggak menyadari kehadiran saya yang cukup lama mengamati perempuan yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang karena kasus narkoba itu.

Saat "bekerja", Rohana memang selalu tampak serius. Mungkin, yang terngiang di kepalanya hanyalah bayang-bayang keluarganya di Jakarta yang menunggu kiriman uang darinya. Tiga anak Rohana saat ini mengeyam pendidikan di bangku sekolah dan tinggal bersama nenek mereka.

Suaminya entah ke mana. Perempuan asal Jakarta yang tersandung kasus narkoba itu pun harus berjuang keras untuk menafkahi keluarganya dari balik teralis besi.

“Kalau rindu, jangan ditanya!" seru Rohana dengan logat Betawi-nya yang kental di sela masa rehatnya. Matanya mendung. "Jelas rindulah sama anak-anak gue di Jakarta,” tegasnya sekali lagi. Dia tampak menahan tangis.

Baru saya sadari, perjuangan para perempuan ini rupanya memang nggak kaleng-kaleng. Agaknya, mereka berada di titik ketika persekusi masyarakat nggak lagi menjadi masalah besar, karena masalah menghidupi keluarga dari balik jeruji lapas jauh lebih berat.

Menatap Masa Depan

Cherry, seorang narapidana warga negara asing, mengaku sebetulnya masih nggak terima dirinya bisa dibui. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mau nggak mau, perempuan kelahiran Filipina itu harus berdamai, melanjutkan hidup, dan berusaha menatap masa depan.

Nggak tahu kalau koper yang dibawanya ke Boyolali berisi narkotika, dia diciduk pihak berwajib dan kini terpaksa menghabiskan seumur hidupnya di balik jeruji besi. Sisi baiknya, kini perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai penjaga toko komputer itu mengaku banyak berubah.

Laiknya Rohana, di Lapas Wanita Semarang Cherry juga banyak menghabiskan waktu untuk belajar menjahit. Hingga kini, sudah banyak produk yang diciptakannya.

“Anne Avantie (perancang busana kenamaan Indonesia asal Semarang) sering menjahitkan busananya di sini," tutur perempuan 35 tahun tersebut. "Beliau bahkan sangat percaya pada saya.”

Rasa percaya diri terlihat jelas di mata Cherry. Sungguh melegakan melihatnya! Dalam bayangan saya sebelumnya, penghuni lapas adalah orang-orang depresi yang telah kehilangan asa. Namun, rupanya saya keliru.

Binar asa itu juga terlihat di mata Jessica, penghuni lain di lapas yang berada Jalan Mgr Sugiyopranoto, Kelurahan Bulustalan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, tersebut. Kepada saya, dia mengaku bimbang dengan beban moral yang bakal disandangnya saat bebas nanti. Namun, Jessica tetap optimistis segalanya akan berjalan baik.

“Semua orang punya masa lalu. Semua orang bisa membuat kesalahan," ungkap perempuan yang menyandang gelar sarjana yang juga terjerat kasus narkoba tersebut.

Dia memang mengalami dilema. Namun, hal tersebut nggak lantas membuatnya takut untuk bergaul dengan masyarakat ketika sudah bebas nanti.

"Saya akan buktikan kepada masyarakat saat keluar nanti. Saya akan buktikan sudah jadi orang yang lebih baik dibanding masa kelam saya,” akunya.

Upaya untuk Kembali Bermasyarakat

Stigma buruk masyarakat memang acap membuat para mantan narapidana gentar saat bebas dan harus kembali bermasyarakat. Masa hukuman yang lama juga nggak jarang membuat mereka takut bersosialisasi.

Hal ini disadari betul oleh para pengelola lapas. Kepala LPP Kelas IIA Semarang Kristiana Hambawani mengungkapkan, pelbagai program yang dibuat di tempatnya adalah upaya mereka agar para penghuni lapas nggak gentar saat harus kembali bermasyarakat. Menurutnya, hal ini diperlukan agar ketika mereka bebas, mereka dapat hidup normal, bahkan lebih layak dibanding sebelumnya.

“Kami membina mereka dengan berbagai program, seperti wawasan kebangsaan, pendidikan kemandirian, dan pendidikan agama,” ujarnya.

Selain teori, lanjut Kristiana, lapas perempuan ini juga menyediakan ruang bagi para narapidana untuk bekerja, dengan sejumlah profesi dan keahlian seperti menjahit, membatik, memasak, dan salon kecantikan.

"Mereka bakal dapat keuntungan 35 persen untuk setiap produk yang terjual,” tutur Kristiana sembari menunjukkan aktivitas warga binaan serta karya-karya mereka.

Ah, hati saya lumer! Kita memang nggak bakal bisa melihat hati seseorang dan menyaksikan gimana perjuangannya kecuali berdekatan dan berkenalan sendiri dengan mereka. Jadi, kamu nggak perlu menghakimi mereka, ya. 

Hidup ini memang dipenuhi dualisme. Di tempat yang katanya penuh kubangan ini, sejatinya kita bakal tetap menemukan bunga teratai molek yang mekar. Teruslah berjuang untuk hidup yang lebih baik ya, Buibuk! (Triawanda Tirta Aditya/E03)