inibaru indonesia logo
Beranda
Foto Esai
Minggu, 15 Okt 2023 11:30
Aksi Para Zilenial Semarang yang Resah terhadap Keberadaan Sampah
Bagikan:
Sebelum melakukan aksi World Cleanup Day di Curug Semirang, para sukarelawan yang didominasi para zilenial terlebih dulu berkumpul dan berdoa di kampus Universitas Negeri Semarang.
Sesampai di Curug Semirang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, para sukarelawan menempuh perjalanan menanjak untuk mencapai lokasi sisir sampah.
Sebelum penyisiran, para sukarelawan diberi arahan jenis sampah apa saja yang diprioritaskan untuk dipungut.
Sembari membawa karung sampah, para sukarelawan berjalan kaki sejauh sekitar satu kilometer menyusuri sungai dan hutan untuk sampai ke Curug Semirang.
Setelah tiba di lokasi penyisiran, para sukarelawan rehat sekitar 20 menit sebelum melancarkan aksi bersih-bersih sampah.
Sampah yang dipungut dikumpulkan ke dalam karung sebelum dipilah dan ditimbang.
Untuk memperluas cakupan penyisiran, tim sukarelawan World Cleanup Day Semarang dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing dibekali 10 karung untuk mengumpulkan sampah jenis plastik dan limbah B3.
Hanya dalam kurun waktu sekitar dua jam, sebanyak 30 karung telah penuh terisi sampah plastik dan limbah B3.
Selepas bersih-bersih sampah, para sukarelawan mengabadikan momen aksi World Cleanup Day di Curug Semirang dengan berfoto bersama.
Sampah plastik yang sulit terurai menjadi salah satu jenis sampah yang disisir di Curug Semirang.

Sampah plastik yang sulit terurai banyak ditemukan di wisata Curug Semirang, Kabupaten Semarang. (Inibaru.id/ Rosalie Nurdin)

Momen World Cleanup Day jadi bukti kalau anak-anak muda punya kepedulian terhadap lingkungan. Hanya saja mereka terkadang tidak punya wadah untuk mengekpresikan kegelisahan mereka terhadap persoalan sampah.

Inibaru.id - Gen-z atau zilenial yang acap dianggap terlalu santai dan mager memberi kesan bahwa mereka adalah anak-anak yang abai terhadap segala hal, termasuk lingkungan sekitar. Namun, kesan ini sama sekali nggak terlihat dari sosok Dewi Cheisya.

Dengan cekatan, cewek yang saat ini masih tercatat sebagai SMA N 6 Semarang tersebut memunguti sampah plastik yang terserak sepanjang jalur menuju wana wisata Curug Semirang, Kabupaten Semarang, beberapa waktu silam. Sama sekali nggak ada kesan mager dalam tiap gerakannya.

Alih-alih berlibur pada akhir pekan, dia bersama sembilan temannya memilih bergabung dalam aksi World Cleanup Day untuk menyisir sampah yang dibuang sembarangan di sekitar Curug Semirang. Keresahanlah yang membawa gadis ceria ini memutuskan untuk bergabung dalam gerakan tersebut.

Oya, untuk yang belum tahu, World Cleanup Day adalah aksi bersih-bersih lingkungan yang dipelopori oleh sekelompok orang di Estonia. Aksi yang digelar tiap 16 September ini mendunia, hingga akhirnya digelar secara terpisah di berbagai belahan dunia.

Berkat Pandawara Group

Bagi Cheisya, sapaan akrabnya, aksi di Curug Semirang menjadi pengalaman pertamanya mengikuti World Cleanup Day. Setelah mengikuti aksi bersih-bersih sampah bareng Pandawara Group di pantai Tambakrejo, dia menjadi keranjingan untuk terlibat dalam kegiatan lingkungan seperti itu.

"Ini lebih seru (dibanding Tambakrejo), walaupun untuk menuju lokasi agak capai karena harus jalan kaki dan tracking dulu," ujarnya sambil mengais sampah di tanah. "Tapi, semua ini terbayarkan karena saya dapat pengalaman baru."

Perwakilan Wolrd Cleanup Jateng Trihatmo Jurnalis mengungkapkan, anak muda seperti Cheisya dkk sejatinya nggak sulit ditemukan di Semarang. Sejak Pandawara Group yang banyak melakukan aksi bersih-bersih lingkungan viral di medsos, nggak sedikit anak muda yang ingin mengikutinya.

"Mereka sebetulnya juga resah dengan permasalahan sampah yang belum dikelola dengan baik, tapi nggak punya wadah. Maka, nggak heran kalau aksi bersih-bersih sampah di Curug Semirang ini cukup banyak diikuti sukarelawan," serunya.

Sampah adalah Persoalan Serius

Trihatmo, begitu dia biasa disapa, berharap momen World Cleanup Day yang digelar di salah satu lokawisata yang mulai populer di Kabupaten Semarang ini bisa memantik kesadaran bahwa sampah merupakan persoalan serius dan butuh kolaborasi dari berbagai elemen.

"Kami membuka kerja sama dengan komunitas apa saja yang mau jadi penyelenggara tiap tahunnya," ungkapnya.

Oya, untuk tahun ini, aksi World Cleanup Day di Semarang diinisiasi oleh Komunitas Lentera dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ketua pelaksana aksi Ikhsanul Mustaqim mengatakan, aksi ini diikuti oleh 36 sukarelawan yang berasal dari berbagai kalangan.

Curug Semirang, lanjutnya, dipilih karena dari empat lokasi yang mereka survei, wana wisata tersebut merupakan yang paling membutuhkan kehadiran mereka. Untuk memperluas cakupan penyisiran, tim dibagi menjadi tiga kelompok dan fokus mengumpulkan sampah daur ulang dan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya).

"Sekitar dua jam memungut dan memilah, kami dapat 81,4 kilogram sampah dengan rincian 62,1 kilogram sampah plastik, 4,3 kilogram botol plastik, dan 15 kilogram limbah B3," terangnya. "Botol kami kelola di bank sampah, sedangkan plastik dibuang di tempat pembuangan."

Kalau kamu masih berpikir bahwa zilenial adalah generasi yang abai terhadap lingkungan, ada baiknya kamu mengikuti aksi bersih-bersih lingkungan semacam ini, deh! Bisa jadi kesan itu muncul karena generasi di atasnya yang justru mematikan kreativitas mereka! (Fitroh Nurikhsan/E03)

inibaru indonesia logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Social Media

Copyright © 2024 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved