Gejala Disebut Ringan, Kasus Kematian Pertama Covid-19 Varian Omicron Bikin Geger

Gejala Disebut Ringan, Kasus Kematian Pertama Covid-19 Varian Omicron Bikin Geger
Ilustrasi: Muncul laporan kasus kematian akibat Covid-19 varian Omicron di Inggris. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Covid-19 varian Omicron seringkali disebut menyebabkan gejala lebih ringan. Nyatanya, di Inggris dilaporkan kasus kematian akibat varian ini. Hal ini memicu kehebohan banyak pihak, khususnya pakar kesehatan.

Inibaru.id – Covid-19 varian Covid-19 bikin banyak orang khawatir. Bagaimana nggak, tingkat penularannya jauh lebih cepat daripada jenis Covid-19 sebelumnya. Bahkan, meski banyak pihak menyebut gejalanya ringan, nyatanya kini ada kasus kematian pertama akibat varian Omicron yang membuat banyak orang khawatir.

Kasus kematian ini terjadi di Inggris. Saking dianggap pentingnya berita soal ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson jadi orang pertama yang mengumumkannya. Maklum, nggak hanya pertama di negara tersebut, kasus kematian ini jadi yang kali pertama dilaporkan di dunia.

Sayangnya, Johnson nggak merinci lebih jauh soal kasus kematian ini, khususnya dalam hal apakah orang tersebut sudah mendapatkan vaksin Covid-19 atau belum. Selain itu, belum jelas juga apakah orang tersebut memiliki penyakit berat atau tidak. Satu hal yang pasti, orang tersebut sempat dirawat di rumah sakit sebelum meninggal.

“Saya kira kita harus memikirkan ulang tentang pendapat bahwa Omicron menyebabkan gejala lebih ringan dan mengakui kalau varian ini menyebar dengan sangat cepat,” terang Johnson di Pusat Vaksinasi London, Inggris.

Sebelumnya, ada laporan 10 orang yang dirawat di rumah sakit Inggris dan dipastikan tertular Covid-19 varian Omicron. Usia pasien itu di antara 18 sampai 85 tahun. Yang cukup ironis, sebagian besar pasien sudah mendapatkan vaksin dua dosis.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan kasus kematian pertama akibat varian Omicron. (Flickr/BackBoris2012 Campaign Team)
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan kasus kematian pertama akibat varian Omicron. (Flickr/BackBoris2012 Campaign Team)

Di Inggris, penyebaran varian Omicron berlangsung secepat kilat. Menteri Kesehatan Sajif Javid bahkan sampai menyebut 44 persen dari total kasus positif di London berasal dari varian ini. Dia pun memperkirakan kalau dalam 48 jam ke depan, varian ini bakal mendominasi kasus Covid-19 di sana mengingat penularan varian ini bisa mencapai 200 ribu orang per hari.

Covid-19 varian Omicron kali pertama terdeteksi di negara-negara selatan Afrika, tepatnya Botswana dan Afrika Selatan. Hong Kong kemudian ikut melaporkan kasus varian ini pada November 2021 lalu. Para peneliti cukup mengkhawatirkan varian ini karena tetap bisa menembus antibodi tubuh orang-orang yang sudah mendapatkan vaksin dua dosis, termasuk vaksin AstraZeneca ataupun Pfizer.

Nah, soal gejala yang ditimbulkan varian ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih memakai pedoman dari penelitian sementara yang dikeluarkan di Afrika Selatan, yakni cenderung lebih ringan dari varian Delta yang memicu begitu banyak kematian pada pertengahan tahun lalu di Indonesia. Sejauh ini, varian Delta juga masih cukup dominan dan menyebabkan banyak masalah di berbagai belahan dunia.

Wah, apapun itu, kasus Covid-19 memang belum benar-benar selesai di mana pun ya, Millens, termasuk di Indonesia. Pokoknya sih, kalau mau ke luar rumah, sebaiknya tetap memakai masker, rajin cuci tangan, dan hindari kerumunan, ya? (Det/IB09/E05)