Bukan Karena Darah Pejuang, Ini Alasan Penamaan Jembatan Merah Surabaya

Bukan Karena Darah Pejuang, Ini Alasan Penamaan Jembatan Merah Surabaya
Jembatan Merah Surabaya. (eastjourneymagz.com)

Ada isu yang menyebut penamaan Jembatan Merah Surabaya disebabkan oleh warna jembatan jadi merah karena darah pejuang. Beneran nih?

Inibaru.id – Surabaya dikenal dengan julukan Kota Pahlawan. Bahkan, di sana juga ada lokasi ikonik yang disebut-sebut sebagai saksi bisu perjuangan para pahlawan. Lokasi tersebut adalah Jembatan Merah.

Penamaan Jembatan Merah ini penuh dengan misteri. Ada yang menyebut jembatan ini berwarna merah karena tetesan darah dari para pejuang saat 10 November 1945. Hal ini tentu terlihat cukup mengerikan, ya?

Meski begitu, sejarawan ternyata membantah isu kalau jembatan merah diberi nama tersebut karena terkena cipratan darah para pejuang. Realitanya, sebelum peristiwa itu, namanya juga sudah Jembatan Merah.

Achmad Zaki Yamani menjelaskan kalau jembatan ini dibangun pada 11 November 1743 sebagai simbol kesepakatan Belanda dengan Kerajaan Mataram. Nama jembatan itu adalah Roode Brug yang kalau diartikan ke Bahasa Indonesia adalah Jembatan Merah.

“Awalnya Jembatan Merah bernama Roode Brug. Roode itu merah, brug itu jembatan. Karena di samping pagar itu berwarna merah, mulai dari awal dicat merah dan dari awal sudah dinamakan Roode Brug,” jelas Achmad, Rabu (10/11/2022).

Jembatan merah di masa lampau. (datajembatan.com)
Jembatan merah di masa lampau. (datajembatan.com)

Direnovasi pada 1980

Sayangnya, renovasi pada 1980 menghilangkan kesan jembatan kolonial tersebut. Alasan renovasi sebenarnya baik, yakni meningkatkan kekuatan jembatan karena arus lalu lintas yang semakin ramai. Sayangnya, hal ini membuat bentuk bersejarahnya hilang.

“Jembatan ini kan karena banyak lalu lalang, maka harus direstorasi. Kalau ingin tahu aslinya Jembatan Merah itu, nggak jauh beda dengan Jembatan Peneleh,” ujar anggota Komunitas Begandring Soerabaia.

Satu hal yang pasti, nggak ada yang tersisa dari Jembatan Merah yang lama. Bahkan, komponen-komponennya layaknya bagian dari pondasi juga hilang entah kemana. Meski begitu, Achmad menyebut ada yang mengklaim pagar dari Jembatan Merah masih asli sebagaimana saat kali pertama dibangun.

Jadi, kini kamu nggak bisa menemukan bekas tembakan atau sisa-sisa pertempuran di zaman perang kemerdekaan. Padahal, di bangunan bersejarah lainnya di Surabaya seperti Gedung Internatio dan Vladuk Gubeng, ada lo bekas tembakan.

Kemungkinan restorasi itu juga termasuk restorasi pagar jembatan,” tutup Achmad.

Menarik juga ya menilik sejarah dari Jembatan Merah di Surabaya, Millens. (Det/IB09/E05)